Sabtu, 24 Mei 2014

Empat Lelaki Berarti


Kita semua pasti memiliki seseorang yang berarti, mereka berarti karena mampu mengambil andil dihidup kita yang mampu membentuk, menjaga dan melindungi kita. Seperti yang kita tahu segala sesuatu telah diciptakan berpasang-pasangan baik makhluk hidup ataupun kata-kata yang sering kita gunakan untuk berinteraksi. Mengenai pasangan telah diciptakan ada laki-laki dan perempuan. Dimana seorang perempuan harus mampu menjadi pelengkap untuk lelakinya begitu pula seorang laki-laki harus mampu menjadi penjaga terhebat untuk wanitanya. Dalam hidupku aku memiliki empat lelaki berarti, yang karena mereka aku akan lebih belajar memaknai hidup dan lebih bahagia.
 

Lelaki pertama adalah lelaki terhebat dalam hidupku. Yang selalu mewujudkan segala apapun yang ku minta, yang selalu mengabulkan apapun yang ku inginkan. Lelaki itu yang pertama kali mewujudkan keinginanku, mengajakku melihat pasar malam untuk pertama kalinya saat aku duduk di kelas 4 SD. Lelaki yang mengabulkan permintaanku saat aku merengek meminta baju berwarna pink dengan gambar teddy bear berwarna putih. Lelaki yang membelikan aku boneka teddy bear yang ku inginkan yang sampai saat ini saat usiaku hampir genap 20 tahun. Kedua benda itu masih ku simpan dengan baik dan rapi. Lelaki yang selalu mencium kening dan pipiku saat ia harus pergi meninggalkan dua orang yang dicintainya (aku dan mama) demi sesuap nasi. Iyaa, lelaki itu adalah papaku. Papa yang selalu memberiku kekuatan. Walaupun sampai saat ini aku belum bisa dekat dengannya, karena aku wanita yang gampang sekali menangis bila berbicara dengannya. Tapi aku sangat mencintainya, dia penyemangatku. Kita tahu “Alasan seorang wanita mencintai ayahnya adalah, bahwa setidaknya ada satu laki-laki di dunia ini yang tidak akan pernah menyakitinya”. Iya, papa tidak akan pernah menyakiti putri kecilnya. Papa jarang sekali marah pada setiap kesalahanku hanya saja jika ia tida menyukainya sindiran-sindirian kecil cekit-cekit dihati siap kita dengar. Papa orang yang tidak pandai menunjukkan perasaannya, kurasa kebanyakan setiap ayah seperti itu. Papa selalu memberikan kebebasan kepada anak-anaknya untuk menjalani hidup, untuk memilih setiap keputusan yang akan diambil. Pola fikir papa sangat sederhana. Pernah suatu hari aku aku ggaal mengejar target kelulusanku, aku meminta maaf kepada papa untuk kelemahanku. papa hanya membalas "tidak apa-apa, mungkin belum waktunya. Yang penting kamu sabar, kamu nyaman, kamu gak stress, kamu tetep semangat dan selalu sehat. itu sudah cukup. semua hanya soal waktu mbak". Satu kalimat yang menjadi penenang ketika semaleman aku menangis. Aku bahagia.


Lelaki kedua dan ketiga adalah jagoanku. Lelaki kedua hanya selisih tiga tahun denganku dan lelaki ketiga selisih sembilan tahun denganku. Aku sebut mereka dengan jagoan hidupku. Walapun setiap kali bertemu kami bertiga sering sekali berkelahi dan meributkan hal-hal yang tidak penting. Tapi kami bisa kompak dalam membuat kejutan pertambahan umur keluarga. Mereka berdua adik laki-lakiku. Walupun pada hakikatnya aku adalah seorang kakak, tapi tetap merekalah yang akan melindungiku. Tetap merekalah yang akan selalu menjaga dan tidak akan membuatku terluka. Mereka jagoanku. Walaupun sekarang kami jauh, aku di jogja untuk kuliah adik ke-2 ku di solo untuk menekuni hobby dan sekolahnya dan adik terakhirku menemani kedua orang tuaku di martapura (Palembang). Kalian tahu lelaki kedua ku ini sangat mirip wajahnya dengan papaku, bisa di bilang copy paste sekali mereka berdua hanya berbeda zaman saja. Dia hitam manis dan sekarang tingginya melebihi tinggi papaku. Sampai-sampai aku harus menarik leherku kebelakang untuk dapat melihatnya. Dan untuk adikku yang ketiga pada dasarnya kehadiran nya tidak di rencanakan hee.. Karena papa dan mama sudah cukup memiliki anak laki-laki dan perempuan. Tapi apa mau di kata, Allah memberikan kado terindah kepada kedua orang tuaku untuk yang ketiga kalinya. Setidaknnya adik ketigaku bisa menemani kedua orang tuaku sekarang.


Lelaki berarti yang terakhir aku tidak tahu siapa dia, umurnya, wajahnya, sifatnya, kepribadiannya yang jelas dia sedang memperbaiki diri untuk sama-sama bertemu denganku. Aku tidak tahu apakah dia kasar atau lembut. Yang jelas aku mudah sekali menangis dengan kata-kata yang kasar. Aku yakini dia tetap bersamaku dan mampu menerima aku apa adanya. Menerima yang menjadi kekuranganku bahkan kelebihanku. Walaupun sampai saat ini aku tidak tahu kelebihanku di mana :D. Lelaki yang selalu bisa aku ajak untuk sharing dan bertukar fikiran mengenai tugas dan pekerjaanku nanti. Lelaki yang selalu tersenyum melihatku menjadi kebanggannya. Lelaki yang selalu merasa aku adalah pelengkapanya dan dia adalah pelengkapku. Lelaki yang selalu menuntutku untuk terus dekat dengan-Nya untuk selalu menggenggam tanganku dan membantuku berdiri saat aku terjatuh, yang selalu menyediakan waktu berharganya untuk sekedar beristirahat ketika kita lelah untuk berlari. Lelaki yang selalu aku sebut dalam doa-doaku. Lelaki yang menjadi imam terbaik setelah papaku dan menjadi ayah terbaik dari anak-anakku. Dia calon suamiku yang telah tertulis di lauhul Mahfudz. Kita sedang sama-sama mencari untuk dipertemukan nantinya.