DAFTAR ISI
BIODATA
KELOMPOK........................................................................... ii
KATA
PENGANTAR................................................................................ iii
DAFTAR
ISI ............................................................................................. iv
I.
PENDAHULUAN................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang................................................................................ 1
1.2 Tujuan Praktikum............................................................................ 1
II.
TINJAUAN PUSTAKA....................................................................... 2
2.1.
Pengertian Besi dan
Korosi............................................................ 2
2.2.
Peyebab dan Pengendalian Korosi................................................. 3
III. PROSEDUR
PRAKTIKUM................................................................. 6
3.1
Alat dan Bahan............................................................................... 6
3.1.1 Alat..................................................................................... 6
3.1.2 Bahan.................................................................................. 6
3.2 Langkah Kerja................................................................................. 6
IV. HASIL
DAN PEMBAHASAN............................................................ 8
4.1 Hasil .............................................................................................. 8
4.2 Pembahasan..................................................................................... 8
V. KESIMPULAN.................................................................................... 12
DAFTAR
PUSTAKA.......................................................................... 13
LAMPIRAN......................................................................................... 14
I.
PENDAHULUAN
1.1.
Latar
Belakang
Dalam bahasa sehari-hari korosi dikenal
dengan perkaratan yakni sesuatu yang hampir dianggap sebagai musuh umum masyarakat.
Karat adalah sebutan bagi korosi pada besi, padahal korosi merupakan gejala
destruktif yang mempengaruhi hampir semua logam. Besi adalah salah satu dari
banyak jenis logam yang mengalami korosi, tidak perrlu diingkari bahwa logam
itu paling awal menimbulkan korosi serius. Karena itu tidak mengherankan bila
istilah korosi dan karat hampir dianggap sama. Korosi dikenal merugikan karena
bersifat merusak logam dan membahayakan. Oleh karena itu, dengan pentingnya
mempelajari pencegahan korosi percobaan kali ini difokuskan oleh masalah
tersebut dan akan dipaparkan logam-logam apa sajakah yang dapat menghambat terjadinya korosi..
1.2.
Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan untuk :
1. Untuk mengetahui paku
pada aqua gelas
manakah yang menjadi berkarat.
2.
Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan besiberkarat.
3.
Cara pencegahan korosi pada besi.
II.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Besi dan Korosi
1. Besi
Besi adalah logam yang berasal dari bijih besi (tambang) yang banyak digunakan untuk kehidupan manusia sehari-hari dari yang bermanfaat sampai dengan yang merusakkan. Dalam tabel periodik, besi mempunyai simbol Fe dan nomor atom 26. Besi juga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.
Besi adalah logam yang paling banyak dan paling beragam penggunaannya. Hal itu karena beberapa hal, diantaranya:
• Kelimpahan besi di kulit bumi cukup besar,
• Pengolahannya relatif mudah dan murah, dan
• Besi mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan dan mudah dimodifikasi.
Salah satu kelemahan besi adalah mudah mengalami korosi. Korosi menimbulkan banyak kerugian karena mengurangi umur pakai berbagai barang atau bangunan yang menggunakan besi atau baja. Sebenarnya korosi dapat dicegah dengan mengubah besi menjadi baja tahan karat (stainless steel), akan tetapi proses ini terlalu mahal untuk kebanyakan penggunaan besi.
Korosi besi memerlukan oksigen dan air. Berbagai jenis logam contohnya Zink dan Magnesium dapat melindungi besi dari korosi.
(id.wikipedia.com)
2. Korosi
Korosi adalah kerusakan atau degradasi logam akibat reaksi redoks antara suatu logam dengan berbagai zat di lingkungannya yang menghasilkan senyawa-senyawa yang tidak dikehendaki. Dalam bahasa sehari-hari, korosi disebut perkaratan. Contoh korosi yang paling lazim adalah perkaratan besi.
Besi adalah logam yang berasal dari bijih besi (tambang) yang banyak digunakan untuk kehidupan manusia sehari-hari dari yang bermanfaat sampai dengan yang merusakkan. Dalam tabel periodik, besi mempunyai simbol Fe dan nomor atom 26. Besi juga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.
Besi adalah logam yang paling banyak dan paling beragam penggunaannya. Hal itu karena beberapa hal, diantaranya:
• Kelimpahan besi di kulit bumi cukup besar,
• Pengolahannya relatif mudah dan murah, dan
• Besi mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan dan mudah dimodifikasi.
Salah satu kelemahan besi adalah mudah mengalami korosi. Korosi menimbulkan banyak kerugian karena mengurangi umur pakai berbagai barang atau bangunan yang menggunakan besi atau baja. Sebenarnya korosi dapat dicegah dengan mengubah besi menjadi baja tahan karat (stainless steel), akan tetapi proses ini terlalu mahal untuk kebanyakan penggunaan besi.
Korosi besi memerlukan oksigen dan air. Berbagai jenis logam contohnya Zink dan Magnesium dapat melindungi besi dari korosi.
(id.wikipedia.com)
2. Korosi
Korosi adalah kerusakan atau degradasi logam akibat reaksi redoks antara suatu logam dengan berbagai zat di lingkungannya yang menghasilkan senyawa-senyawa yang tidak dikehendaki. Dalam bahasa sehari-hari, korosi disebut perkaratan. Contoh korosi yang paling lazim adalah perkaratan besi.
Pada peristiwa korosi, logam mengalami oksidasi, sedangkan
oksigen (udara) mengalami reduksi. Karat logam umumnya adalah berupa oksida atau
karbonat. Rumus kimia karat besi adalah Fe2O3.nH2O,
suatu zat padat yang berwarna coklat-merah.
Korosi merupakan proses elektrokimia.
Pada korosi besi, bagian tertentu dari besi itu berlaku sebagai anode, di mana besi
mengalami oksidasi.
Fe(s) <--> Fe2+(aq) + 2e
Elektron yang dibebaskan di anode mengalir ke bagian lain
dari besi itu yang bertindak sebagai katode, di mana oksigen tereduksi.
O2(g) + 4H+(aq) + 4e
<--> 2H2O(l)
atau
O2(g) + 2H2O(l) + 4e
<--> 4OH-(aq)
Ion besi(II) yang terbentuk pada anode selanjutnya
teroksidasi membentuk ion besi(III) yang kemudian membentuk senyawa oksida
terhidrasi, yaitu karat besi. Mengenai bagian mana dari besi itu yang bertindak
sebagai anode dan bagian mana yang bertindak sebagai katode, bergantung pada
berbagai faktor, misalnya zat pengotor, atau perbedaan rapatan logam itu.
Korosi dapat juga diartikan sebagai serangan yang merusak
logam karena logam bereaksi secara kimia atau elektrokimia dengan lingkungan. Ada definisi lain yang
mengatakan bahwa korosi adalah kebalikan dari proses ekstraksi
logam dari bijih mineralnya.
Contohnya, bijih mineral logam besi di alam bebas ada dalam bentuk senyawa besi oksida atau besi sulfida, setelah
diekstraksi dan diolah, akan dihasilkan besi yang digunakan untuk pembuatan baja atau baja paduan. Selama pemakaian,
baja tersebut akan bereaksi dengan lingkungan yang menyebabkan korosi (kembali
menjadi senyawa besi oksida).
Deret Volta dan hukum Nernst akan membantu
untuk dapat mengetahui kemungkinan terjadinya korosi. Kecepatan korosi sangat
tergantung pada banyak faktor, seperti ada atau tidaknya lapisan oksida, karena
lapisan oksida dapat menghalangi beda potensial terhadap elektroda
lainnya yang akan sangat berbeda bila masih bersih dari oksida.
(id.wikipedia.com)
2.2 Penyebab korosi dan Pengendalian korosi
1.Penyebab
korosi
Faktor yang berpengaruh terhadap korosi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu yang berasal dari bahan itu sendiri dan dari lingkungan. Faktor dari bahan meliputi kemurnian bahan, struktur bahan, bentuk kristal, unsur-unsur kelumit yang ada dalam bahan, teknik pencampuran bahan dan sebagainya.
Faktor dari lingkungan meliputi tingkat pencemaran udara, suhu, kelembaban, keberadaan zat-zat kimia yang bersifat korosif dan sebagainya. Bahan-bahan korosif (yang dapat menyebabkan korosi) terdiri atas asam, basa serta garam, baik dalam bentuk senyawa an-organik maupun organik.
Penguapan dan pelepasan bahan-bahan korosif ke udara dapat mempercepat proses korosi. Udara dalam ruangan yang terlalu asam atau basa dapat memeprcepat proses korosi peralatan elektronik yang ada dalam ruangan tersebut. Flour, hidrogen fluorida beserta persenyawaan-persenyawaannya dikenal sebagai bahan korosif. Dalam industri, bahan ini umumnya dipakai untuk sintesa bahan-bahan organik. Ammoniak (NH3) merupakan bahan kimia yang cukup banyak digunakan dalam kegiatan industri. Pada suhu dan tekanan normal, bahan ini berada dalam bentuk gas dan sangat mudah terlepas ke udara.
2. Pengendalian korosi
Korosi menimbulkan banyak kerugian karena mengurangi umur berbagai barang atau bangunan yang menggunakan besi atau baja. Sebenarnya korosi dapat dicegah dengan mengubah besi menjadi baja tahan karat (stainless steel). Akan tetapi, proses ini terlalu mahal untuk kebanyakan penggunaan besi.
Korosi besi memerlukan oksigen dan air. Kemudian, kita ketahui bahwa berbagai jenis logam dapat melindungi besi terhadap korosi. Cara-cara pencegahan korosi besi yang akan dibahas berikut ini didasarkan pada dua sifat tersebut.
1. Mengecat. Jembatan, pagar dan railing biasanya dicat. Cat menghindarkan kontak besi dengan udara dan air.
2. Melumuri dengan oli atau gemuk. Cara ini diterapkan untuk berbagai perkakas dan mesin. Oli dan gemuk mencegah kontak besi dengan air.
3. Dibalut dengan plastik. Berbagai macam barang, misalnya rak piring dan keranjang sepeda dibalut dengan plastik. Plastik mencegah kontak besi dengan udara dan air.
4. Tin plating (pelapisan dengan timah).
Kaleng-kaleng kemasan terbuat dari besi yang dilapisi dengan timah. Pelapisan dilakukan secara elektrolisis, yang disebut electroplating. Timah tergolong logam yang tahan karat. Besi yang dilapisi timah tidak mengalami korosi karena tidak ada kontak dengan oksigen (udara) dan air. Akan tetapi, lapisan timah ada yang rusak, misalnya tergores, maka timah justru mendorong/mempercepat korosi besi. Hal itu terjadi karena potensial reduksi besi lebih negatif daripada timah. Oleh karena itu, besi yang dilapisi dengan timah akan membentuk suatu sel elekrokimia dengan besi sebagai anode. Dengan demikian, timah mendorong korosi besi. Akan tetapi, hal itu justru yang diharapkan, sehingga kaleng-kaleng bekas cepat hancur.
5. Galvanisasi (pelapisan dengan zink).
Pipa besi, tiang telpon, badan mobil, dan berbagai barang lain dilapisi dengan zink. Berbeda dengan timah, zink dapat melindungi besi dari korosi sekalipun lapisannya tidak utuh. Hal itu terjadi karena suatu mekanisme yang disebut dengan perlindungan katode. Oleh karena potensial reduksi besi lebih positif daripada zink, maka besi yang kontak dengan zink akan membentuk sel elekrokimia dengan besi sebagai katode. Dengan demikian, besi terlindungi dan zink yang mengalami oksidasi.
6. Cromium plating (pelapisan dengan kromium). Besi atau baja juga dapat dilapisi dengan kromium untuk memberi lapisan pelindung yang mengkilap, misalnya untuk bumper mobil. Cromium plating juga dilakukan dengan elektrolisis. Sama seperti zink, kromium dapat memberi perlindungan sekalipun lapisan kromium itu ada yang rusak
7. Sacrificial protection (pengorbanan anode).
Magnesium adalah logam yang jauh lebih aktif (berarti lebih mudah berkarat) daripada besi. Jika logam magnesium dikontakkan dengan besi, maka magnesium itu akan berkarat tetapi besi tidak. Cara ini digunakan untuk melindungi pipa baja yang ditanam dalam tanah atau badan kapal laut. Secara periodik, batang magnesium harus diganti.
(taneyoroshi.blogspot.com)
Faktor yang berpengaruh terhadap korosi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu yang berasal dari bahan itu sendiri dan dari lingkungan. Faktor dari bahan meliputi kemurnian bahan, struktur bahan, bentuk kristal, unsur-unsur kelumit yang ada dalam bahan, teknik pencampuran bahan dan sebagainya.
Faktor dari lingkungan meliputi tingkat pencemaran udara, suhu, kelembaban, keberadaan zat-zat kimia yang bersifat korosif dan sebagainya. Bahan-bahan korosif (yang dapat menyebabkan korosi) terdiri atas asam, basa serta garam, baik dalam bentuk senyawa an-organik maupun organik.
Penguapan dan pelepasan bahan-bahan korosif ke udara dapat mempercepat proses korosi. Udara dalam ruangan yang terlalu asam atau basa dapat memeprcepat proses korosi peralatan elektronik yang ada dalam ruangan tersebut. Flour, hidrogen fluorida beserta persenyawaan-persenyawaannya dikenal sebagai bahan korosif. Dalam industri, bahan ini umumnya dipakai untuk sintesa bahan-bahan organik. Ammoniak (NH3) merupakan bahan kimia yang cukup banyak digunakan dalam kegiatan industri. Pada suhu dan tekanan normal, bahan ini berada dalam bentuk gas dan sangat mudah terlepas ke udara.
2. Pengendalian korosi
Korosi menimbulkan banyak kerugian karena mengurangi umur berbagai barang atau bangunan yang menggunakan besi atau baja. Sebenarnya korosi dapat dicegah dengan mengubah besi menjadi baja tahan karat (stainless steel). Akan tetapi, proses ini terlalu mahal untuk kebanyakan penggunaan besi.
Korosi besi memerlukan oksigen dan air. Kemudian, kita ketahui bahwa berbagai jenis logam dapat melindungi besi terhadap korosi. Cara-cara pencegahan korosi besi yang akan dibahas berikut ini didasarkan pada dua sifat tersebut.
1. Mengecat. Jembatan, pagar dan railing biasanya dicat. Cat menghindarkan kontak besi dengan udara dan air.
2. Melumuri dengan oli atau gemuk. Cara ini diterapkan untuk berbagai perkakas dan mesin. Oli dan gemuk mencegah kontak besi dengan air.
3. Dibalut dengan plastik. Berbagai macam barang, misalnya rak piring dan keranjang sepeda dibalut dengan plastik. Plastik mencegah kontak besi dengan udara dan air.
4. Tin plating (pelapisan dengan timah).
Kaleng-kaleng kemasan terbuat dari besi yang dilapisi dengan timah. Pelapisan dilakukan secara elektrolisis, yang disebut electroplating. Timah tergolong logam yang tahan karat. Besi yang dilapisi timah tidak mengalami korosi karena tidak ada kontak dengan oksigen (udara) dan air. Akan tetapi, lapisan timah ada yang rusak, misalnya tergores, maka timah justru mendorong/mempercepat korosi besi. Hal itu terjadi karena potensial reduksi besi lebih negatif daripada timah. Oleh karena itu, besi yang dilapisi dengan timah akan membentuk suatu sel elekrokimia dengan besi sebagai anode. Dengan demikian, timah mendorong korosi besi. Akan tetapi, hal itu justru yang diharapkan, sehingga kaleng-kaleng bekas cepat hancur.
5. Galvanisasi (pelapisan dengan zink).
Pipa besi, tiang telpon, badan mobil, dan berbagai barang lain dilapisi dengan zink. Berbeda dengan timah, zink dapat melindungi besi dari korosi sekalipun lapisannya tidak utuh. Hal itu terjadi karena suatu mekanisme yang disebut dengan perlindungan katode. Oleh karena potensial reduksi besi lebih positif daripada zink, maka besi yang kontak dengan zink akan membentuk sel elekrokimia dengan besi sebagai katode. Dengan demikian, besi terlindungi dan zink yang mengalami oksidasi.
6. Cromium plating (pelapisan dengan kromium). Besi atau baja juga dapat dilapisi dengan kromium untuk memberi lapisan pelindung yang mengkilap, misalnya untuk bumper mobil. Cromium plating juga dilakukan dengan elektrolisis. Sama seperti zink, kromium dapat memberi perlindungan sekalipun lapisan kromium itu ada yang rusak
7. Sacrificial protection (pengorbanan anode).
Magnesium adalah logam yang jauh lebih aktif (berarti lebih mudah berkarat) daripada besi. Jika logam magnesium dikontakkan dengan besi, maka magnesium itu akan berkarat tetapi besi tidak. Cara ini digunakan untuk melindungi pipa baja yang ditanam dalam tanah atau badan kapal laut. Secara periodik, batang magnesium harus diganti.
(taneyoroshi.blogspot.com)
III. PROSEDUR PRAKTIKUM
3.1. Alat dan
Bahan
3.1.1. Alat
1. Gunting
2. Lem
3. Kamera
3.1.2. Bahan
1. Paku kecil 8 buah
2. Air
3. Larutan Cuka
4. Aqua gelas 8 buah
5. Karet Gelang 4 buah
6. Plastik bening 4 buah
3.2 Langkah Kerja
1. Siapkan
alat dan bahan di meja pengamatan sesuai dengan alat dan bahan yang diperlukan.
2. Siapkan
tabel hasil pengamatan seperti berikut.
Identitas Aqua gelas
|
Perubahan yang terjadi
|
A
|
Hari ke-1:
Hari ke-2:
Hari ke-3:
Hari ke-4
Hari ke-5:
Hari ke-6:
Hari ke-7:
|
B
|
|
3.
Beri identitas aqua gelas tersebut dari A-H
4.
Perlakuan paku setiap aqua gelas sbb:
Pada aqua gelas A: di isi paku saja
Pada aqua gelas B: di isi paku dan air sedikit dengan
catatan paku tenggelam semua.
Pada aqua gelas C: di isi paku dan air sedikit dgn
catatan air hanya mengenai paku setengahnya jadi paku di berdirikan.
Pada aqua gelas D: di isi paku dan air serta di tambah
larutan cuka Pada aqua gelas E sampai H sama perlakuannya dengan aqua gelas A
sampai D tetapi bedanya pada aqua E
sampai H di beri tutup dengan plastik yang telah di sediakan dan di kuatkan
dengan karet gelang.
5.
Setelah semua selesai letakkan ke 8 aqua gelas tersebut
di tempat yang baik yang tidak terkena sinar matahari
6.
Kemudian amati dan catat perubahan yang terjadi selama 1 minggu
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Dari pengamatan yang kami lakukan kami memperoleh hasil sbb.
Identitas
Gelas
|
Perubahan yang Terjadi
|
A
|
Hari ke-1: Belum
terjadi perubahan
Hari ke-2: Belum
mengalami perubahan
Hari ke-3: Mulai
mengalami korosi
Hari ke-4:
Sedikit mengalami korosi
Hari ke-5: Mengalami
korosi
Hari ke-6: Korosi
bertambah
|
B
|
Hari ke-1:
Belum ada
Perubahan
Hari ke-2:
Terjadi perubahan, mulai timbul korosi pada paku
dibagian bawah.
Hari ke-3:
Terjadi perubahan, mulai timbul korosi pada paku
Dibagian terkena air.
Hari ke-4:
Terjadi perubahan, mulai timbul korosi pada paku
Dibagian terkena air dan warna
air menjadi kuning.
Hari ke-5:
Mengalami korosi, Dibagian terkena air dan warna air menjadi kuning.
Hari ke-6:
Korosi
bertambah banyak
|
C
|
Hari ke-1:
Belum ada
perubahan
Hari ke-2:
Belum ada
perubahan
Hari ke-3:
Terjadi
perubahan sedikit korosi
Hari ke-4:
Mengalami
korosi di semua bagian paku dan warna air pada paku menguning.
Hari ke-5:
Air menjadi
menguning karena paku berkorosi lebih banyak.
Hari ke-6:
Korosi
bertambah banyak di seluruh bagian paku
|
D
|
Hari ke-1:
Belum ada
perubahan
Hari ke-2:
Mulai
mengalami perubahan
Hari ke-3:
Terjadi perubahan, timbul gelembung-gelembung di
sekitar paku dan paku berubah menjadi hitam, air tetap berwarna putih.
Hari ke-4:
Terjadi perubahan, timbul gelembung-gelembung di
sekitar paku dan paku berubah menjadi hitam, air tetap berwarna putih
Hari ke-5:
Gelembung-gelembung bertambah banyak di sekitar paku
dan paku berubah menjadi hitam, air tetap berwarna putih.
Hari ke-6:
Gelembung-gelembung bertambah banyak di sekitar paku
dan paku berubah menjadi hitam, air tetap berwarna putih.
|
E
|
Hari ke-1:
Belum ada perubahan
Hari ke-2:
Belum ada perubahan
Hari ke-3:
Tidak terjadi korosi
Hari ke-4:
Tidak terjadi korosi
Hari ke-5:
Tidak terjadi korosi
Hari ke-6:
Tidak terjadi korosi
|
F
|
Hari ke-1:
Belum ada
Perubahan
Hari ke-2:
Belum ada perubahan
Hari ke-3:
Terjadi perubahan, mulai timbul korosi pada paku
Dibagian yang terkena air. Lebih sedikit korosi dari pada yang
terbuka.
Hari ke-4:
Mulai timbul
korosi pada paku
Dibagian terkena air dan warna
air menjadi kuning.
Hari ke-5:
Mengalami korosi, Dibagian terkena air dan warna air menjadi kuning. Lebih sedikit korosi dari pada yang
terbuka.
Hari ke-6:
Korosi
bertambah banyak
|
G
|
Hari ke-1:
Belum ada
perubahan
Hari ke-2:
Belum ada
perubahan
Hari ke-3:
Mulai
mengalami perubahan
Hari ke-4:
Mulai
mengalami korosi di semua bagian paku dan warna air pada paku menguning.Serta
terjadi penguapan.
Hari ke-5:
Air menjadi
menguning karena paku berkorosi lebih banyak.
Dan korosi
lebih banyak yang terbuka dari pada yang tertutup. Serta terjadi penguapan.
Hari ke-6:
Korosi
bertambah banyak di seluruh bagian paku dan warna aie menguning.Serta terjadi
penguapan.
|
H
|
Hari ke-1:
Belum terjadi
perubahan
Hari ke-2:
Terjadi perubahan, timbul gelembung-gelembung di
sekitar paku dan paku berubah menjadi hitam, air tetap berwarna putih, dan
gelembung lebih sedikit daripada yang terbuka
Hari ke-3:
Terjadi perubahan, timbul gelembung-gelembung di
sekitar paku dan paku berubah menjadi hitam, air tetap berwarna putih, dan
gelembung lebih sedikit daripada yang terbuka
Hari ke-4:
Gelembung bertambah banyak di sekitar paku dan paku
berubah menjadi hitam, air tetap berwarna putih, dan gelembung lebih sedikit
daripada yang terbuka.
Hari ke-5:
Gelembung bertambah banyak di sekitar paku dan paku
berubah menjadi hitam, air tetap berwarna putih, dan gelembung lebih sedikit daripada
yang terbuka.
Hari ke-6:
Gelembung bertambah banyak di sekitar paku dan paku
berubah menjadi hitam, air tetap berwarna putih, dan gelembung lebih sedikit
daripada yang terbuka.
|
4.2 Pembahasan
Dari hasil
pengamatan tersebut, kita memberikan 4 perlakuan beda pada paku yaitu paku
tidak di beri air, paku terkena air seluruhnya, paku terkena air setengahnya,
pemberian air cuka pada paku tersebut serta 2 perlakuan berbeda pada aqua gelas
yaitu aqua gelas tertutup dan tidak tertutup.
Dari hasil
pengamatan selama 6 hari kami mendapati bahwa pada medium aqua terbuka pada paku
A (tanpa air) hanya terjadi sedikit korosi, pada paku B(air penuh) terjadi
korosi secara menyeluruh pada paku dan membuat air pada paku tersebut berubah
warnaya menjadi kuning ,pada paku C(air setengah) terjadi korosi juga tetapi
hanya pada bagian yng terkena air saja, sedangkan pada paku D(air cuka) CH3COOH
terjadi korosi secara keseluruhan dengan keadaan paling cepat terjadinya korosi
di bandingkan dengan keadaan lain tetapi paku berwarna hitam. Hal ini di
karenakan asam lebih cepat menyebabkan korosi.
Kami juga
melakukan pangamatan pada medium aqua gelas tertutup dan kami mendapati bahwa
paku E(tanpa air) tidak terjadi korosi sedikitpun dalam 6 hari pengamatan, pada
paku F(air penuh) terjadi korosi secara menyeluruh pada paku sehingga membuat
air menjadi berwarna kuning, pada paku G(air setengah) terjadi korosi lebih
sedikit dari paku F(air penuh) sedangkan pada aqua paku H(air cuka) terjadi
korosi secara keseluruhan dan warna paku berwarna hitam.
Setelah di bandingkan ternyata secara keseluruhan paku
dalam keadaan terbuka lebih cepat berkorosi dari pada paku dalam keadaan
tertutup. Penyebabnya
adalah paku yang diletakkan di gelas terbuka teroksidasi oleh oksigen yang ada
disekitarnya sedangkan paku yang diletakkan di gelas tertutup terisolasi oleh
udara atau oksigen.
Perbedaan juga terjadi antara paku di air jernih dengan paku di air cuka.
Korosi yang terjadi pada paku yang diletakkan di air jernih berwarna kuning dan
air juga berubah menjadi kuning, karena korosi tersebut terjadi oleh oksodasi
oksigen. sedangkan korosi yang terjadi pada paku yang diletakkan di air cuka berwarna hitam, korosi tersebut
terjadi karena asam pada cuka. Dan juga, paku yang diletakkan di air cuka lebih
cepat berkarat dibandingkan dengan paku yang diletakkan di air jernih.
V. KESIMPULAN
Dari hasil pratikkum tersebut kami dapat menyimpulkan
bahwa paku yang tidak mengalami korosi terjadi pada paku E(paku tertutup tanpa
air) hal ini bisa terjadi karena tidak ada kontak langsung antara oksigen dan
air serta plastik merupakan pencegahan agar tidak terjadi korosi.
Kemudian dari praktek tersebut di benarkan bahwa salah satu faktor korosi adnya kontak antara udara dan air.Agar tidak terjadi korosi pada besi jangan sampai besi terkontaminasi dengan air atau larutan yang dapat menyebabkan oksidasi sehingga besi dapat berkarat. Jika kita menghindarkan besi dari air, maka besi tidak dapat bereaksi dengan oksigen yang dapat membuatnya berkarat
Kemudian dari praktek tersebut di benarkan bahwa salah satu faktor korosi adnya kontak antara udara dan air.Agar tidak terjadi korosi pada besi jangan sampai besi terkontaminasi dengan air atau larutan yang dapat menyebabkan oksidasi sehingga besi dapat berkarat. Jika kita menghindarkan besi dari air, maka besi tidak dapat bereaksi dengan oksigen yang dapat membuatnya berkarat
DAFTAR PUSTAKA
Id.wikipedia.com
taneyoroshi.blogspot.com
Lampiran
I
Lampiran II
terima kasih bu....
BalasHapusizin copy paste ya...
biasa tugas kuliah.
salam,
Tri Sulistyo
mbak, ijin ambil picnya yaa...
BalasHapus